PALEMBANG – Dunia pendidikan Sumatera Selatan kembali tercoreng oleh aksi arogan oknum pegawai sekolah. R, seorang alumni SMA Gajah Mada 3 Palembang, bukannya mendapatkan haknya berupa ijazah, justru harus pulang dengan trauma mendalam setelah mendapat ancaman dan makian dari seorang oknum staf berinisial A pada Sabtu (18/4/2026).
Kejadian bermula saat R datang ke sekolah untuk mengambil ijazahnya yang ditahan pihak sekolah. Kedatangan R pun bukan tanpa dasar; ia hadir atas instruksi langsung dari Kabid SMA Sumsel, Basuni, S.Pd., M.M., M.Pd., yang bertindak berdasarkan perintah Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Ibu Mondyaboni, S.E., S.Kom., M.Si., M.Pd.
Arogansi Oknum Staf: Tantang Pejabat hingga Ancam Blacklist Tempat Kerja R
Ironisnya, perintah dari pucuk pimpinan pendidikan di Sumsel tersebut seolah dianggap “angin lalu” oleh A. Bukannya memberikan pelayanan yang baik, oknum staf ini justru melontarkan cacian pedas kepada R.
Tak berhenti di situ, A diduga melakukan intimidasi luar biasa dengan mengancam akan memblokir akses pekerjaan R. Dengan nada tinggi, A sesumbar akan mem-blacklist R dari tempat kerjanya saat ini dan menutup kemungkinan bagi R untuk diterima di perusahaan manapun jika tunggakan ijazah tidak segera dilunasi.
“Saya tidak mau tahu siapa yang menyuruh, kalau tidak bayar, saya blacklist kamu di semua tempat kerja!” demikian ancaman yang ditirukan dengan nada gemetar oleh korban.
Korban Alami Trauma Berat
Mendengar ancaman yang menyerang masa depannya, R seketika luruh. Ia menangis histeris di kantor sekolah karena syok dan ketakutan. R mengaku sangat trauma atas tindakan verbal yang sangat tidak manusiawi tersebut, terlebih kedatangannya merupakan bentuk ketaatan atas arahan pejabat berwenang.
Kepala Sekolah Meminta Maaf
Menanggapi kegaduhan yang memanas, Kepala SMA Gajah Mada 3 Palembang, Nurwahid Kemendan, S.E., M.Si., akhirnya angkat bicara. Ia menyampaikan permohonan maaf atas perilaku bawahannya yang tidak pantas tersebut.
“Saya meminta maaf atas ucapan yang tidak pantas yang sudah dilontarkan (Abla). Untuk saat ini, ijazah R sudah kami serahkan kepada yang bersangkutan,” ungkap Nurwahid singkat.
Meski ijazah telah diserahkan, tindakan intimidasi dan ancaman “blacklist” oleh oknum staf ini menjadi catatan hitam bagi integritas SMA Gajah Mada 3 Palembang. Publik kini menunggu tindakan tegas dari Dinas Pendidikan Sumsel agar perilaku premanisme di sekolah swasta tidak lagi memakan korban di masa depan.(Red)
