BAYUNG LENCIR, MUBA – Kemerdekaan seharusnya menjamin perlindungan dan keadilan bagi rakyat. Namun di Desa Mangsang, Kecamatan Bayung Lencir, kata “merdeka” terasa semakin jauh dari kenyataan. Jalan desa rusak dihantam truk bertonase besar, debu hitam mengepung permukiman, dan keselamatan warga terancam setiap hari.
Yang kini menjadi sorotan bukan hanya aktivitas angkutan tambang, tetapi juga sikap aparat penegak hukum di wilayah Bayung Lencir yang dinilai belum menunjukkan langkah tegas dan terbuka.
Jalan Hancur, Aparat Diam?
Kendaraan berat diduga melintas melebihi kapasitas jalan desa. Aspal terkelupas, badan jalan retak, dan lubang menganga menjadi pemandangan biasa.

Warga mempertanyakan:
Di mana pengawasan terhadap pelanggaran tonase?
Apakah ada penindakan terhadap dugaan pelanggaran aturan lalu lintas dan lingkungan?
Mengapa aktivitas terus berjalan meski dampaknya nyata dirasakan masyarakat?
Masyarakat menegaskan bahwa aparat penegak hukum memiliki kewajiban untuk memastikan aturan ditegakkan, bukan sekadar hadir saat situasi memanas.
Desakan Terbuka untuk APH Bayung Lencir
Sorotan kini mengarah pada aparat penegak hukum setempat mulai dari kepolisian sektor wilayah Bayung Lencir hingga unsur penegakan hukum lainnya agar tidak membiarkan dugaan pelanggaran ini berlarut.
Warga mendesak:
Investigasi terbuka dan transparan terhadap dugaan pelanggaran tonase dan kerusakan fasilitas publik.
Audit kebijakan desa yang dianggap minim transparansi.
Penegakan hukum tanpa pandang bulu jika ditemukan unsur pelanggaran.
“Kalau aturan ada tapi tidak ditegakkan, itu sama saja membiarkan rakyat menanggung akibatnya sendiri,” ujar salah satu tokoh masyarakat.
Negara Jangan Absen
Masyarakat menilai ini adalah ujian nyata kehadiran negara di tingkat lokal. Aparat penegak hukum bukan hanya simbol seragam dan kewenangan, tetapi benteng terakhir perlindungan masyarakat.
Jika aparat di wilayah Bayung Lencir tidak segera menunjukkan langkah konkret—baik melalui penindakan, mediasi terbuka, maupun pengawasan ketat—maka kepercayaan publik akan terus terkikis.
Ancaman Aksi Terbuka
Warga menyatakan siap menggelar aksi damai jika dalam waktu dekat tidak ada respons nyata. Bagi mereka, diamnya aparat lebih menyakitkan daripada kerusakan jalan itu sendiri.
Kemerdekaan bukan sekadar slogan tahunan. Ia hidup dalam keberanian aparat menegakkan hukum, dalam ketegasan pemimpin melindungi rakyat, dan dalam transparansi kebijakan yang berpihak pada keselamatan publik.
Kini publik menunggu:
Apakah aparat penegak hukum di Bayung Lencir akan berdiri bersama rakyat, atau memilih tetap menjadi penonton di tengah keresahan yang kian membesar?
Rilis/ft
