Pengamanan Polsek Kertapati Dipertanyakan,Aksi Premanisme di Flyover Kramasan Kian Meresahkan

Pengamanan Polsek Kertapati Dipertanyakan,Aksi Premanisme di Flyover Kramasan Kian Meresahkan

Spread the love

Aksi Premanisme di Flyover Kramasan Kian Meresahkan, Pengamanan Polsek Kertapati Dipertanyakan
PALEMBANG, 12 April 2026 — Aksi kejahatan jalanan kembali terjadi di kawasan Flyover Kramasan, tepatnya pada Minggu malam sekitar pukul 20.53 WIB. Insiden ini menambah daftar panjang keresahan para sopir angkutan barang yang melintas di jalur strategis Kertapati.
Berdasarkan informasi di lapangan, pelaku diduga menjalankan modus cepat dan terorganisir. Mereka memanfaatkan kondisi kendaraan yang melambat, lalu memanjat truk, merusak terpal, dan mengambil barang hanya dalam hitungan detik. Aksi ini terjadi di titik yang minim penerangan dan pengawasan, sehingga pelaku leluasa beraksi tanpa hambatan berarti.
Kondisi ini memperkuat anggapan bahwa kawasan Flyover Kramasan telah menjadi “zona rawan” yang seolah dibiarkan tanpa pengamanan maksimal. Jalur vital penghubung menuju akses tol dan distribusi logistik nasional ini kini justru menjadi momok bagi para sopir lintas daerah.
Warga dan sopir yang melintas pun mulai kehilangan rasa aman. Mereka mempertanyakan keseriusan aparat, khususnya Polsek Kertapati, dalam melakukan pencegahan dan penindakan.
“Kalau kondisi seperti ini terus, bagaimana sopir bisa tenang? Ini bukan kejadian pertama. Seolah tidak ada efek jera bagi pelaku,” keluh salah satu warga.
Sorotan tajam pun mengarah pada minimnya patroli aktif dan pengawasan di jam-jam rawan. Padahal, titik tersebut telah berulang kali disebut sebagai lokasi yang gelap, minim penerangan, dan rawan aksi kriminal.
Masyarakat mendesak agar pihak kepolisian tidak hanya mengandalkan patroli rutin yang bersifat formalitas, tetapi melakukan langkah konkret dan terukur, seperti:
Penempatan personel siaga di titik rawan
Peningkatan patroli malam intensif
Penindakan tegas terhadap pelaku tanpa kompromi
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya merugikan sopir dan pelaku usaha logistik, tetapi juga mencoreng citra keamanan Kota Palembang sebagai jalur distribusi strategis di Sumatera Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *