Cegah Karhutla Sejak Dini, Pasis Seskoad Dikreg LXVIII Perkuat Sinergi Lintas Instansi di Sumatera

Cegah Karhutla Sejak Dini, Pasis Seskoad Dikreg LXVIII Perkuat Sinergi Lintas Instansi di Sumatera

Spread the love

Pasis Seskoad Turun ke Masyarakat, Perkuat Sinergi Cegah Karhutla di Sumatera

PALEMBANG — Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Deteksi dini, edukasi masyarakat, serta koordinasi lintas instansi menjadi kunci untuk menekan potensi kebakaran sejak awal.

Hal inilah yang dilakukan Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVIII Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad). Para Pasis turun langsung ke tengah masyarakat di sejumlah wilayah Sumatera untuk memberikan penyuluhan sekaligus memperkuat koordinasi pencegahan karhutla.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Provinsi Riau, Sumatera Selatan, dan Lampung. Langkah ini menjadi bagian dari upaya TNI dalam menindaklanjuti perintah Panglima TNI dan kebijakan pemerintah terkait pencegahan serta penanggulangan karhutla di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Sebelum terjun ke lapangan, para Pasis terlebih dahulu mendapatkan pembekalan mengenai karhutla. Materi yang diberikan antara lain pengenalan segitiga api, faktor penyebab kebakaran, dampak karhutla, sistem penanggulangan terpadu, deteksi dini, mekanisme pelaporan, hingga langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat.

Masyarakat diberikan pemahaman mengenai risiko membuka atau mengelola lahan dengan cara membakar. Selain berpotensi menimbulkan kebakaran yang meluas, asap karhutla dapat berdampak terhadap kesehatan, lingkungan, aktivitas pendidikan, transportasi, hingga perekonomian masyarakat.

Warga juga didorong untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Di Sumatera Selatan, kegiatan dipusatkan di wilayah Palembang. Selain memberikan penyuluhan kepada masyarakat di Kelurahan Bukit Baru, Pasis Seskoad juga melakukan komunikasi dan koordinasi dengan unsur terkait, di antaranya Kodim Palembang, Polresta Palembang, dan Kejaksaan Negeri Palembang.

Koordinasi tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi wilayah, potensi kerawanan karhutla, sistem deteksi dan pelaporan dini, hingga pola koordinasi antarlembaga dalam menghadapi ancaman kebakaran.

Aspek penegakan hukum terhadap aktivitas yang berpotensi memicu karhutla juga menjadi bagian dari pembahasan dalam koordinasi tersebut.

Pendekatan serupa dilakukan di wilayah Riau dan Lampung. Edukasi kepada masyarakat dipadukan dengan komunikasi bersama unsur kewilayahan untuk membangun sistem pencegahan yang lebih kuat dari tingkat bawah.

Dalam kegiatan tersebut, Pasis tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah. Dialog dengan masyarakat dilakukan untuk mengetahui kondisi serta persoalan yang dihadapi warga di lapangan.

Peran masyarakat dinilai penting karena warga merupakan salah satu unsur terdepan dalam mendeteksi kemunculan titik api.

Informasi yang cepat dan akurat dari masyarakat dapat membantu aparat melakukan tindakan lebih dini sehingga potensi kebakaran tidak berkembang menjadi lebih luas.

Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan. Dampaknya dapat merembet ke berbagai sektor kehidupan masyarakat.

Asap yang ditimbulkan dapat mengganggu kesehatan, aktivitas belajar, transportasi, kegiatan ekonomi, hingga kehidupan sosial. Karena itu, penanganannya membutuhkan kerja bersama berbagai pihak.

Konsep sinergi pentahelix menjadi penting, dengan melibatkan pemerintah, aparat keamanan dan penegak hukum, dunia usaha, akademisi, tokoh masyarakat, serta masyarakat sebagai bagian dari upaya pencegahan.

Setiap unsur memiliki peran masing-masing, mulai dari edukasi, pemetaan wilayah rawan, patroli, deteksi dini, pertukaran informasi, kesiapan personel dan sarana, penanganan titik api, hingga penegakan hukum.

Bagi Pasis Dikreg LXVIII Seskoad, keterlibatan langsung di lapangan juga menjadi bagian dari proses pembentukan calon pemimpin TNI AD. Para Pasis tidak hanya dituntut memahami persoalan secara konseptual, tetapi juga mampu membaca kondisi nyata di wilayah dan membangun komunikasi dengan berbagai komponen masyarakat.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa pencegahan ka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *