Kritik Keras Guru Besar Jaya Sempurna: Apa Gunanya Ribuan Rakaat Jika Tak Bermanfaat Bagi Umat?

Kritik Keras Guru Besar Jaya Sempurna: Apa Gunanya Ribuan Rakaat Jika Tak Bermanfaat Bagi Umat?

Spread the love

Viralaktual7.com

Palembang, – Dunia spiritualitas tanah air dikejutkan oleh pernyataan kritis dari Guru Besar Jaya Sempurna, Singo Mataram. Dalam sebuah dialog Sabtu 28 Maret 2026 12.30 wib di kawasan Sako, Palembang, beliau menggugat standar kesalehan masyarakat modern yang dinilai terlalu terjebak pada ritualitas formal tanpa memberikan dampak nyata (atsar) bagi kemanusiaan.

Singo Mataram mempertanyakan esensi dari ribuan rakaat salat dan zikir jika saat ajal menjemput, seseorang tidak meninggalkan warisan kebaikan yang bisa dirasakan umat. Menurutnya, kematian tanpa kemanfaatan sosial adalah sebuah kegagalan dalam beragama.

“Apa bukti kalau mereka yang rajin ibadah itu diterima amalnya di sisi Allah? Baik itu ahli Fikih, Tarekat, bahkan Makrifat sekalipun. Jika tidak ada hal baik yang bisa dicontohkan buat umat setelah kita tiada, apalah artinya ibadah-ibadah itu?” tegas Singo Mataram.

Beliau menekankan bahwa ibadah yang hanya berhenti pada gerakan fisik atau lisan tanpa transformasi akhlak adalah bentuk “kesalehan yang egois”. Bukti diterimanya amal seseorang baik penganut syariat maupun hakikat bukan terletak pada fenomena gaib, melainkan pada warisan nilai yang ditinggalkan apalagi di sisi Sang Pencipta kematian tanpa kemanfaatan sosial dan spiritual dianggap sebagai kegagalan total dalam beragama.

“Jika seseorang meninggal dunia dan jasadnya hanya menjadi beban yang kaku tanpa ada nilai keteladanan, maka di mana letak kemuliaannya di mata Allah?” ungkapnya dengan nada lugas.

Merujuk pada Surah Al-Anfal ayat 55, Singo Mataram memberikan peringatan keras mengenai kualitas eksistensi manusia. Ia menafsirkan “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.”

Ayat ini bukan sekadar label agama, melainkan peringatan tentang kualitas eksistensi.Dampaknya nyata saat mati, mereka tak ubahnya seperti bangkai binatang berat, kaku, busuk, dan tidak meninggalkan jejak spiritualitas bagi alam semesta,ungkap Singo Mataram dengan nada tegas dalam dialog singkatnya.

Sebagai penutup, Guru Besar Jaya Sempurna mengajak seluruh umat untuk kembali pada esensi iman yang transformatif. Ia mendorong masyarakat untuk menjadi pribadi yang “tetap hidup” melalui manfaatnya meski raga telah tiada.

“Jadilah manusia yang ‘harum’ karena manfaatnya, bukan jasad yang sekadar menunggu busuk,” pungkas Singo Mataram (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *